oleh

Pekan Diplomasi Prabowo Tuai Apresiasi, Yuddy Chrisnandi: Indonesia Kini Jadi Jangkar Geopolitik Kawasan

JAKARTA — Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, menilai rangkaian diplomasi tingkat tinggi yang diterima Presiden Prabowo Subianto sepanjang pekan ini sebagai penanda menguatnya posisi Indonesia di panggung geopolitik kawasan.

Dalam tempo sepekan, Presiden Prabowo menjadi tuan rumah bagi tiga kepala negara dari tiga poros berbeda. Diawali Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko yang melakukan kunjungan kenegaraan pada 1–2 Juli, disusul Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam Leaders’ Retreat di Istana Merdeka pada 6 Juli, dan Perdana Menteri India Narendra Modi yang menjalani kunjungan kenegaraan pada 6–8 Juli.

“Yang terjadi pekan ini bukan sekadar kunjungan protokoler yang berhenti pada foto bersama dan jamuan kenegaraan. Ini adalah konvergensi kepentingan strategis. Dalam hitungan hari, Indonesia didatangi mitra kunci dari Eurasia, dari ASEAN, dan dari Asia Selatan. Itu menunjukkan Jakarta sedang menjadi titik temu diplomasi, bukan sekadar tamu di forum orang lain,” ujar Yuddy yang juga pernah menjabat sebagai sekaligus Duta Besar RI untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia periode 2017–2021.

Baca Juga  Budiman Sudjatmiko Usulkan Kades agar diikutsertakan pendidikan di Lemhannas

Yuddy menyoroti kunjungan Presiden Lukashenko sebagai pembuka pekan yang bersejarah. Kunjungan kedua Lukashenko setelah 13 tahun itu menghasilkan peluncuran Peta Jalan Kerja Sama Bilateral Indonesia–Belarus 2026–2030, yang menyasar sektor strategis seperti ketahanan pangan, energi, industri, dan pupuk. Lukashenko bahkan menjadi kepala negara sahabat pertama yang menginap di Istana Negara.

“Belarus adalah pintu Indonesia ke pasar Eurasia. Kerja sama ini bukan simbolis, karena Belarus salah satu anggota kunci Uni Ekonomi Eurasia, dan kita sudah punya perjanjian dagang dengan blok tersebut. Presiden Prabowo membaca peluang itu dengan jeli,” katanya.

Di poros kawasan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN RB) periode 2014-2016 ini juga menilai Leaders’ Retreat dengan Singapura memperkuat fondasi kemitraan terdekat Indonesia. Pertemuan itu menghasilkan 26 kesepakatan lintas sektor, termasuk kerja sama lingkungan, kredit karbon, ekonomi digital, dan perdagangan listrik lintas batas, serta pembahasan pengamanan Selat Malaka.

Baca Juga  Pemkot Kota Medan Targetkan 200 Remaja Akan Divaksin Covid-19

“Menjaga Selat Malaka tetap aman dan terbuka itu kepentingan vital, bukan hanya bagi Indonesia dan Singapura, tapi bagi perdagangan dunia. Ini menunjukkan Presiden Prabowo mampu merawat mitra terdekat sekaligus menjangkau mitra yang jauh,” tuturnya.

Adapun kunjungan PM Modi, menurut Yuddy, menjadi puncak pekan diplomasi dengan capaian paling konkret. Pertemuan bilateral Prabowo–Modi menghasilkan 14 nota kesepahaman dan enam inisiatif strategis di sektor pertahanan, keamanan maritim, ekonomi digital, hingga energi, termasuk kontrak sistem rudal BrahMos dan peluncuran Indonesia Open Network (ION).

Namun bagi Yuddy, warisan paling dahsyat dari kunjungan Modi justru terletak pada diplomasi budaya. Komitmen India mendukung restorasi Candi Prambanan melalui Archaeological Survey of India, lembaga yang sebelumnya menangani konservasi Angkor Wat, dinilai sebagai jembatan yang memperkokoh persahabatan kedua bangsa.

Baca Juga  Sampah Plastik dan Masa Depan Anak-Cucu Kita

“Prambanan itu bukan sekadar batu candi. Ia adalah bukti hidup ikatan peradaban Indonesia dan India yang telah terjalin lebih dari seribu tahun. Ketika kedua pemimpin sepakat merawat warisan ini bersama, mereka sedang membangun jembatan persahabatan yang jauh lebih kokoh daripada sekadar perjanjian dagang. Ini diplomasi yang punya jiwa,” ujarnya.

Yuddy menutup dengan pujian kepada kepemimpinan Presiden Prabowo. Menurutnya, sudah sepantasnya Presiden Prabowo, sebagai pemimpin negara terbesar di ASEAN, menjadi jangkar geopolitik kawasan yang didatangi para pemimpin dunia.

“Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN, dan hari ini kita melihat para pemimpin dunia justru datang ke Jakarta. Ini bukan kebetulan. Ini buah dari kepemimpinan yang punya visi dan wibawa. Sudah sepantasnya Presiden Prabowo menjadi jangkar geopolitik kawasan, tempat berlabuhnya kepentingan banyak bangsa. Itulah yang patut kita apresiasi,” pungkasnya.