Site icon KABARPAPUA.CO.ID

PSHT Tidak Butuh Permusuhan Panjang

SUTRISNO BUDI kembali menyampaikan pesan reflektif terkait dinamika dan konflik yang terjadi di tubuh PSHT. Melalui pernyataan yang disampaikan kepada media, ia mengingatkan bahwa tidak ada pihak yang akan benar-benar menang apabila persaudaraan terus dikorbankan karena ego, fanatisme berlebihan, dan kesombongan kelompok.

Menurutnya, pihak yang merasa kuat karena legalitas formal belum tentu mendapatkan dukungan tulus dari mayoritas saudara. Sebaliknya, pihak yang merasa kuat karena jumlah, sejarah, dan basis massa juga dapat kehilangan tempat apabila tetap mempertahankan sikap arogan dan tidak membuka ruang persatuan.

SUTRISNO BUDI menilai konflik yang berkepanjangan hanya akan meninggalkan luka, dendam, dan permusuhan panjang sebagaimana pernah terjadi dalam sejarah perpecahan sebelumnya. Bahkan, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu gesekan di akar rumput serta mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat luas.

“Tidak ada pihak yang akan benar-benar menang. Persaudaraan-lah yang akan kalah. Alangkah berdosanya kita apabila ego dan kesombongan terus menjerumuskan persaudaraan ke dalam pertikaian yang tidak berujung,” ujar SUTRISNO BUDI.

Ia menegaskan bahwa PSHT sejatinya lahir sebagai ajaran luhur yang menjunjung persaudaraan, budi pekerti, serta nilai kemanusiaan. PSHT seharusnya menjadi karunia Tuhan untuk kebaikan dunia (Memayu Hayuning Bawana), bukan justru menjadi sebab lahirnya perpecahan antar saudara sendiri.

Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai narasi provokatif di media sosial juga dinilai memperkeruh suasana. Karena itu, seluruh warga PSHT diimbau untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi, tidak mudah terpancing provokasi, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta tetap menjaga kondusivitas di tengah masyarakat.

SUTRISNO BUDI juga mengajak seluruh elemen PSHT, baik para sesepuh, pengurus, pelatih, maupun warga di akar rumput untuk mengedepankan musyawarah, tabayun, dan semangat persaudaraan demi menjaga marwah organisasi yang telah dibangun oleh para pendahulu.

“Kita semua bersaudara. Jangan sampai hanya karena perbedaan pandangan, kita melupakan ajaran luhur PSHT dan justru saling menyakiti. Mari menahan diri, menjaga ketertiban, dan kembali membangun persatuan demi masa depan PSHT yang lebih baik,” tambahnya.

Ia berharap seluruh pihak dapat menghentikan ego, meninggalkan kesombongan, dan kembali bersatu menjaga nilai-nilai luhur persaudaraan agar PSHT tetap menjadi organisasi yang membawa manfaat, kedamaian, dan keteladanan di tengah masyarakat.

“Kita adalah PSHT. PSHT adalah Kita,” pungkasnya.

Exit mobile version